SEJARAH HIDAN
Hidan adalah pendatang baru dari kota. Ia memutuskan pindah ke desa
para Shinobi karena menurutnya ini adalah tempat yang cocok untuknya
karena tempat itu tenang tetapi penuh tantangan. Ketika pertama kali
masuk, ia harus berusaha mambuat dirinya diterima karena sifatnya yang
menurut penduduk sekitar desa menyebalkan. Tetapi, seiring dengan
berjalannya waktu, ia pun akhirnya bisa diterima oleh seluruh penduduk
desa dan memiliki banyak teman. Walaupun pembawannya selalu ceria,
sebenarnya ia memiliki masa lalu yang kelam. Kedua orang tuanya dibunuh
di depan matanya sendiri yang menyebabkan ia trauma dengan orang asing.
Untunglah sekarang ia memiliki banya teman yang membantunya melupakan
masa lalunya yang teramat kelam itu.
Hidan adalah anggota kedua
terbaru yang suka bicara kotor dan partnernya Kakuzu. Kanji pertama
dalam nama Hidan adalah hisha, yang berarti benteng dalam permainan
shogi. Ia adalah seorang penganut agama bernama ‘Jashin’, sebuah
kepercayaan yang menyembah dewa Jashin dan apapun yang tidak meghasilkan
pengrusakan dianggap sebagai dosa. Sebagai bagian dari agamanya, hidan
memiliki sebuah jimat berbentuk segitiga terbalik di dalam lingkaran.
Sebelum pertarungan dimulai, ia berdoa pada jimat ini, meminta
pengampunan dan juga agar targetnya harus ditangkap hidup-hidup. Setelah
pertarungan dimulai, hidan sangat tidak suka jika pertarungannya
diinterupsi atau dipaksa untuk berhenti. Setelah bertarung, ia melakukan
ritual 30 menit sesuai dengan kepercayaannya, yang memuncak dengan
menikam dirinya sendiri di dada dan berbaring di atas tanah.
Hidan rupanya tidak bisa mati. Ia masih memiliki kemampuan untuk
berbicara serta dapat bertahan hidup walaupun berada dalam kondisi
sekarat dengan dipenuhi banyak luka, serta lehernya terpenggal. Meskipun
ia dapat hidup dalam bagian yang terpotong, Hidan harus terhubung
dengan tubuhnya agar bisa dikendalikan. Walaupun kenyataannya ia tidak
bisa mati, Hidan menyatakan secara terbuka sebelum pertarungan bahwa ia
mengharapkan dapat dibunuh oleh lawannya. Dalam pertarungan, Hidan
memegang sabit besar bermata tiga yang digunakan sebagai sebuah
proyektil yang dikendalikan dengan sebuah tali yang membungkus
pergelangan tangannya. Walaupun ia mampu untuk menyerang ninja paling
berbakat dengan senjatanya, Hidan mengklaim bahwa sabitnya membuat dia
menjadi penyerang terlambat dalam Akatsuki. Tiga mata sabit besarnya
tidak dimaksudkan untuk meningkatkan kerusakan dari serangannya,
melainkan untuk meningkatkan kesempatannya untuk mengambil darah
musuhnya.
Setelah ia mendapatkan darah lawannya serta
memakannya, Hidan menggunakan darahnya sendiri untuk menggambar simbol
dalam jimatnya di tanah. Kemudian Hidan mengalami sebuah transformasi,
menjadikan hampir dari seluruh kulitnya berwarna hitam. Selanjutnya
Hidan menggambar garis putih secara kasar pada posisi yang sama dengan
tulangnya. Dikombinasikan dengan sabit besarnya, transformasi ini
menjadikannya seperti Grim Reaper. Setelah transformasinya sempurna,
Hidan dan musuhnya menjadi “terhubung”, dan segala kerusakan yang
diterima Hidan berlaku juga untuk musuhnya (seperti boneka voodoo).
Selama berada dalam simbol tersebut, Hidan menggunakan tombak sebagai
ganti dari sabit besarnya untuk melukai tubuhnya sendiri, mengakibatkan
sakit yang bukan main ke tubuhnya dan lawannya. Dikarenakan tidak bisa
mati, Hidan tidak terluka oleh serangan tersebut, melainkan itu
merupakan suatu kesenangan baginya. Setelah mempermainkan musuhnya
dengan memberiakn luka yang tidak mematikan, Hidan menikam dadanya, yang
mengakibatkan lawannya terluka, dan transformasinya kembali seperti
semula. Meskipun itu menjadi teknik yang sangat berguna, Hidan harus
tetap berada di dalam simbol. Jika ia meninggalkan simbol tersebut,
transformasi serta “hubungan” antara Hidan dan musuhnya masih ada,
membuatnya hanya perlu untuk kembali ke dalam simbol dan mengulang
tekniknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar